Ponggok.id – Bagi Anda yang sedang memantau cicilan bank atau rencana investasi, keputusan otoritas moneter pekan ini menjadi angin segar sekaligus pengingat untuk tetap waspada. Langkah ini menjadi krusial di tengah fluktuasi pasar dunia yang kian sulit ditebak arahnya.
Melansir laporan resmi dari Siaran Pers No.28/43/DKom Bank Indonesia, Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18-19 Februari 2026 membuahkan hasil yang strategis. Otoritas memutuskan untuk menjaga level kebijakan demi menjaga keseimbangan ekonomi nasional.
Poin Penting Keputusan BI:
- Suku bunga utama tetap berada di level 4,75% untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
- Fokus utama dialihkan pada penguatan ekonomi domestik menghadapi tekanan ekspor global.
- Bank Indonesia tetap membuka ruang penurunan bunga di masa depan jika inflasi tetap terkendali.
Rincian Suku bunga BI Rate Februari 2026 terbaru dan Kebijakan Pendukung
Keputusan ini tidak diambil secara sepihak tanpa pertimbangan matang terhadap variabel ekonomi makro. Bank Indonesia menegaskan bahwa suku bunga Deposit Facility kini berada di level 3,75% dan Lending Facility sebesar 5,50%.
Melalui pengumuman di Website Resmi Bank Indonesia, kebijakan ini merupakan langkah konkret untuk mengawal target inflasi 2026-2027 tetap di angka 2,5±1%. Fokus utama saat ini adalah memastikan Rupiah tidak terperosok lebih dalam akibat dinamika pasar keuangan luar negeri.
Berikut adalah tabel rincian suku bunga yang ditetapkan oleh Bank Indonesia:
| Jenis Instrumen Moneter | Persentase Suku Bunga |
| BI-Rate (Utama) | 4,75% |
| Deposit Facility | 3,75% |
| Lending Facility | 5,50% |
Otoritas moneter juga terus memantau ruang untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut di masa mendatang. Hal ini akan dilakukan sejalan dengan prakiraan inflasi yang tetap rendah dan kebutuhan untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Mengapa BI Memilih Menahan Suku Bunga?
Dunia saat ini sedang menghadapi tren perlambatan ekonomi yang dipicu oleh kebijakan perdagangan luar negeri yang agresif. Salah satu faktor utamanya adalah dampak tarif resiprokal Amerika Serikat dan ketegangan geopolitik yang belum mereda.
Mengutip pernyataan resmi dari akun YouTube Bank Indonesia, stabilitas nilai tukar menjadi prioritas utama untuk mencegah efek domino pada harga barang di dalam negeri. Bank Indonesia menilai bahwa nilai tukar Rupiah saat ini masih berada di bawah nilai fundamentalnya atau undervalued.
“Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas stabilisasi nilai tukar Rupiah baik melalui intervensi di pasar NDF luar negeri maupun transaksi spot dan DNDF di pasar dalam negeri.”
Selain itu, kondisi ekonomi negara besar seperti Tiongkok dan India juga dilaporkan sedang melambat. Hal ini memaksa Indonesia untuk lebih mandiri dalam menggerakkan roda ekonomi melalui konsumsi domestik dan investasi internal.
Dampak bagi Masyarakat dan Pelaku Usaha
Meskipun BI-Rate tetap, perbankan diharapkan tetap responsif dalam menurunkan suku bunga kredit guna mendukung sektor riil. Bank Indonesia telah memperkuat Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk memberikan stimulus bagi bank yang rajin menyalurkan kredit.
Melansir informasi dari Akun Instagram Resmi @bank_indonesia, insentif yang disalurkan kepada perbankan per Februari 2026 telah mencapai Rp427,5 triliun. Dana jumbo ini diarahkan untuk sektor-sektor prioritas pemerintah, termasuk hilirisasi sumber daya alam dan ekonomi kreatif.
Sektor yang Mendapat Prioritas Penyaluran Kredit:
- Pertanian, Industri, dan Hilirisasi: Mendapat dukungan besar untuk memperkuat kemandirian pangan dan energi.
- Sektor Jasa dan Ekonomi Kreatif: Difokuskan pada penciptaan lapangan kerja baru bagi generasi muda.
- Konstruksi dan Perumahan: Mendorong kepemilikan hunian yang terjangkau bagi masyarakat luas.
- UMKM dan Inklusi Hijau: Memastikan pelaku usaha kecil tetap memiliki akses modal di tengah ketidakpastian global.
Digitalisasi Keuangan dan Persiapan Idulfitri 1447 H
Sektor pembayaran digital mencatatkan pertumbuhan yang sangat impresif di awal tahun 2026 ini. Volume transaksi QRIS bahkan melonjak hingga 131,47%, menandakan masyarakat semakin nyaman bertransaksi tanpa uang tunai.
Bank Indonesia juga bersiap menghadapi periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) melalui program SERAMBI 2026. Program ini memastikan ketersediaan uang Rupiah yang cukup dan berkualitas di seluruh pelosok Indonesia, termasuk wilayah Terpencil.
Informasi dari Website Kementerian Keuangan RI juga menyoroti sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal dalam menjaga daya beli masyarakat. Kerjasama ini bertujuan agar momentum pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 tetap terjaga di tengah persiapan menyambut Idulfitri.
Kesimpulan
Keputusan mempertahankan Suku bunga BI Rate Februari 2026 terbaru di level 4,75% adalah langkah defensif sekaligus ofensif untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Sinergi antara otoritas moneter dan kebijakan fiskal pemerintah diharapkan mampu membawa ekonomi Indonesia tumbuh di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen pada tahun ini.